Kontra Dibalik Iklan Sekolah Tidak Berbayar

Maraknya iklan sekolah cuma-cuma yang ditayangkan di media elektronika memang mengharukan. Iklan di-setting lebih pada dunia keseharian, yang melibatkan orang tua siswa dengan pelbagai pekerjaan, antara lain tukang ojek dan sopir angkutan perkotaan. Iklan ini juga memberi pencerahan seputar pekerjaan buah hati-buah hati di masa depan, tanpa memperhatikan pekerjaan orang tuanya. Iklan ini juga diakhiri dengan kalimat: “Sekolah dapat.”

Artikel terkati >> Sekolah di BSD

Siapa bahkan yang menyimak iklan itu akan larut dalam keadaan emosionil. Iklan sekolah cuma-cuma di layar kaca hal yang demikian menyiratkan makna bahwa sekolah memang untuk segala. Tak memperhatikan buah hati orang kaya atau miskin, berasal dari kota atau desa, tidak membedakan laki-laki atau perempuan, dan dikotomi status lainnya. Rakyat Indonesia tentu mengamini apa yang dipersembahkan oleh iklan hal yang demikian. Keinginan bahkan membuncah. Tarif untuk buah hati sekolah dapat diaplikasikan untuk tarif hidup lainnya yang kian hari kian berat.

Pada kenyataannya, keadaan emosionil yang tersaji dalam iklan berbeda dengan kenyataan di lapangan. Keadaan emosionil itu berubah menjadi keadaan penuh amarah dan ketidakpercayaan. Memang ada sekolah yang benar-benar cuma-cuma (tak memungut uang ini itu), tapi di sisi lain ada sekolah yang benar-benar mahal, mengumpet di balik status sekolah. Seakan-akan iklan itu cuma untuk sekolah negeri yang lazim-lazim saja, melainkan bukan untuk sekolah negeri yang statusnya mengklaim sebagai sekolah plus. Klaim atas status tak jarang menjadi alat dan alibi untuk menarik pembiayaan yang mahal, yang kadang di luar kalkulasi.

Bisa dibayangkan untuk masuk SD unggulan tarif lebih dari Rp 3 juta, untuk masuk SMP unggulan di atas Rp 5 juta, apalagi masuk SMA unggulan tentu di atas Rp 7 juta. Anehnya, yang antri banyak sehingga kian menyuburkan kapitalisme pengajaran di negeri ini. Situasi ini tentu bertentangan dengan konsep sekolah untuk segala. Iklan sekolah cuma-cuma itu juga seakan tak punya imbas apa-apa.

baca juga —> Cambridge Curriculum

Beberapa besar orang tua siswa berasumsi, cuma-cuma itu berarti tanpa membayar apa saja. Asumsi itu wajar sebab beberapa besar orang tua telah terpengaruh iklan sekolah cuma-cuma. Malahan, banyak orang tua mengeluh saat dimintai tarif untuk pengadaan buku atau sumber belajar lainnya walaupun itu menjadi hak milik buah hatinya.

Kesenjangan apa yang dipersembahkan di iklan dan di lapangan disebabkan oleh isu yang tak komplit. Mispersepsi ini berpotensi pada sikap apriori masyarakat kepada dunia pengajaran. Mestinya yang dimaksud cuma-cuma hal yang demikian dijabarkan dengan terang sehingga infonya tak terpotong-potong. Apakah cuma-cuma registrasinya, cuma-cuma SPP-nya, cuma-cuma uang gedungnya, atau cuma-cuma uang pengembangannya? Seluruh seharusnya dibuktikan.

Kontra sekolah cuma-cuma akan kian parah apabila penyelenggara pengajaran dan guru tak lapang dada mendapatkan kebijakan hal yang demikian. Jangan hingga guru berperilaku kapitalis dengan bisnis LKS atau barang lainnya terhadap siswa sebab program sekolah cuma-cuma mengurangi pendapatannya dari sekolah di luar gaji legal.

Kontra sekolah cuma-cuma akan terus berlangsung apabila pemerintah tak membatasi progres UU Badan Regulasi Pengajaran secara ketat dan memberi pencerahan terhadap penyelenggara pengajaran. Tak itu saja, mekanisme sekolah cuma-cuma seharusnya dilansir dengan terang dan tentu ada sanksi bagi penyelenggara yang melanggar. Apabila ini telah dijalankan dan berjalan dengan bagus, barulah kita katakan: Sekolah Dapat! Seluruh pasti mau terealisasinya pengajaran cuma-cuma. Supaya buah hati-buah hati Indonesia bisa mengenyam pengajaran patut 12 tahun dan bisa mengangkat martabat dan derajat bangsa kita.

 

selengkapnya disini : IB School Jakarta